Sabtu, 01 Agustus 2009, GALAMEDIA
Pasar Tradisional "Kritis", Bertahan Saat Krisis
Oleh: NANO SUYATNA
PASAR tradisional merupakan sumber daya ekonomi yang berakar pada hasil produksi daerah berupa hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan. Para pedagang di pasar ini, baik pedagang besar, menengah atau kecil sebagian besar datang dari daerah asal masing-masing komoditas tersebut. Sangat jarang pedagang yang berasal dari perkotaan.Setelah krisis ekonomi global, sektor industri mengalami keterpurukkan. Banyak pegawai atau buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), memilih berdagang di pasar tradisional. Begitu strategisnya, sampai kampanye salah satu calon presiden kerap mengangkat kejayaan pasar tradisional, melalui ekonomi kerakyatan, dengan harapan dapat mengulang kembali kesuksesan pasar ini. Apa mungkin?Kondisi kritisBanyak fakta bahwa renovasi pasar tradisional yang diubah menjadi pasar tradisional modern dengan harga fantastis, menyulitkan pedagang untuk memilikinya kembali. Pergeseran ini, lambat laun menggeser keberadaan pasar tradisional menjadi pasar modern. Diperlukan kerja keras untuk menghentikannya kecenderungan ini dengan memperbaiki tingkat keamanan, kebersihan, dan kenyamanan pasar tradisional.Pada prinsipnya pasar tradisional tidak dapat digabung atau dijadikan pasar modern, walaupun dengan istilah pasar tradisional modern. Pasar tradisional mempunyai ciri tersediri. Orang datang ke pasar tradisional dengan berbusana seadanya, bersepatu bot, berpakaian tradisional.Suasana ini mendatangkan kesenangan tersendiri bagi pelaku pasar tersebut. Apalagi di pasar tradisional harga dapat ditawar dan pembeli memiliki banyak pilihan dalam berbelanja, baik dalam kualitas maupun harga yang diinginkan. Ini sangat menguntungkan bagi pembeli yang berstatus pedagang.Selain itu, barang dagangan masih alami, belum dikemas, sehingga perlu penyortiran. Hal ini secara tidak langsung menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, seperti yang terlihat di pasar induk tradisional. Dan tentunya pasar ini menciptakan pengusaha-pengusaha tangguh. Seandainya pasar tradisional tidak ada atau dibatasi peranannya, akan menimbulkan pengangguran yang multiefek. Adanya kemandekan distribusi komoditas berefek pada kenaikan harga. Selain itu komoditas yang tidak terserap pasar menjadi busuk sehingga menjadi sampah yang bertumpuk, kumuh, dan tidak nyaman.Efek lainnya pendapatan pemerintahan daerah asal komoditas maupun tempat pasar tradisional berada akan berkurang. Juga peningkatan kemiskinan dan pengangguran. Para petani dan tengkulak pun akan merugi dan tidak bisa berproduksi lagi. Kondisi ini tetap berbeda walaupun ditangani pasar tradisional modern, karena barang yang diterima pasar tradisional ini sudah tersortir dengan harga lebih mahal.Tak ada pembatasanKondisi pasar tradisional yang kumuh, karena tidak adanya pembatasan kapasitas daya tampung pasar. Misalnya pedagang kaki lima (PKL), tukang becak, dan kuli bongkar muat yang cenderung kurang menjaga lingkungan sekitar dengan baik. Pasar tradisional selain berupaya mendatangkan pembeli, juga mendatangkan pemasok barang yang dikirim petani atau tengkulak. Mereka mengirim barang tanpa sortiran. Ini membuat sampah yang dibawa menjadi tak terbatas dan bertumpuk. Lebih buruk lagi bila curah hujan tinggi, tumpukan sampah ini menjadi cepat busuk, menimbulkan bau dan lingkungan pun jadi kotor.Pembeli adalah raja, apa pun itu mulai dari pengelola, pedagang, dan yang lainnya (tuan rumah), harus menyambut pembeli dengan baik dengan tindakan yang membuat pembeli senang sehingga mereka kembali lagi. (Penulis, salah satu manajemen Badan Pengelola Pasar Induk Caringin)**
Kamis, 03 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar